Surat Terakhir Untukmu - Fazil Nad Dikemas 12/04/2003 oleh Editor “Aku pergi!” tulismu pada secarik kertas kumal di meja kamarku. Hanya dua kata. Tanpa nama, tanpa tanda tangan. Tetapi aku tahu surat dua kata itu adalah tulisanmu. Aku mengenalmu jauh lebih dari kau mengenal dirimu sendiri. Andai saja kau ada di kamarku ketika kubaca suratmu, pasti kau tak bisa melukiskan kekecewaanku yang mendalam. Jiwaku terasa menggelepar. Ruhku terasa mendesak keluar. Perih. Sungguh perih. Dua kata yang mampu menerobos jantungku hingga aku bungkam dan denyut nadi mati terasa. Kau sungguh pintar merobek hatiku. Yang tak habis kupikir adalah kenapa kau hanya meninggalkan dua kata pada secarik kertas kumal. Kenapa tidak kau tulis puluhan, ratusan, atau ribuan kata di suratmu agar aku tak kesakitan seperti ini. Kau tahu, dua kata itu selalu terngiang di telingaku. Mungkin jika kau tulis panjang surat, tak ada kata-kata yang terngiang di telingaku karena terlalu banyak kata yang mesti kuingat. Sungguh, kau tikam jiwaku melalui dua kata itu. Sakit sekali. Kau sama sekali tak menghargaiku. Kau menganggapku seperti kertas kumal itu yang dengan mudah disobek dan diremas lalu dibuang ke bak sampah. Kuakui kita memang banyak sekali perbedaan. Watak kita bagai api dan air. Tetapi bukankah api dan air itu saling melengkapi. Apa jadinya air tanpa api, atau api tanpa air? Begitulah prinsipku, sehingga kau kuterima apa adanya. Kau suka berpesta, aku suka kesendirian. Kau suka berjalan-jalan, aku suka diam. Kau suka bercanda, aku serius. Kau glamor, aku sederhana. Kau selalu ingin bersenang-senang, sementara aku ingin kedamaian. Kau periang, aku pendiam. Memang begitu jauh perbedaan kita. Persis seperti api dan air. Tapi bukankah api dan air saling melengkapi? Tidakkah kau sadari itu? Kala kau sedang bersedih, kau datang padaku maka kuberi kau ketenangan. Jika aku sedang tak bergairah, maka kau datang beri aku semangat baru. Jika kau sedang dalam kesusahan, maka kuberi kau kedamaian. Jika kau tak tahu ke mana lagi mau pergi, maka kau kutemani selalu. Tidakkan itu saling melengkapi? Sesungguhnya banyak hikmah dari perbedaan kita kalau kau mau sedikit berpikir jauh dan positif tentunya. Jika aku salah, maafkan aku. Perpisahan bukan satu-satunya solusi untuk perbedaan kita. Kumohon kembalilah padaku. Mari kita perbaiki kancing yang salah terpasang. Kesalahan adalah untuk kita mengetahui apa yang benar. Tidak ada salah kalau tidak ada sesuatu yang benar. Begitu pun sebaliknya. Seharusnya kau mengerti itu. Tapi kau tak mau mengerti. Kau selalu mengeluh dengan watakku yang jauh berbeda denganmu. Aku pun selalu menyadarkanmu bahwa manusia itu tidak pernah diciptakan untuk sama walau kembar sekali pun. Manusia berbeda, dan wajib menerima perbedaan. Aku pun selalu untuk tolerir dan menghargai terhadap apa yang kau lakukan. Namun kau tak bisa menghargai dan tak bisa menolerir apa yang kulakukan. Kadang kau ingin mengubahku menjadi periang, tapi aku memolesi jiwaku dengan semen pendirian yang tak bisa kau ubah. Tidakkah kau sadar aku tak pernah memolesi jiwamu. Aku terima kamu apa adanya. Hanya satu kuharapkan darimu kelak adalah kau menghargai perbedaan kita, karena perbedaan bukanlah benih perpecahan atau suatu ketidakcocokan melainkan saling melengkapi. SALING MELENGKAPI! Kau harus camkan kalimat itu di dalam hatimu. Tetapi kau tak bisa. Dan kau pergi tanpa bicara. Aku ingat sekali ketika kau mengajakku pergi ke pesta ultah temanmu, tapi aku menolaknya. Aku tak suka keramaian dan keributan. Tapi kau marah. Kau mengatakan aku tak mencintaimu lagi. Kau tak pernah berpikir positif dari ketidakpergianku. Padahal sudah kujelaskan aku tidak suka keramaian. Lalu ketika yang kedua kalinya, aku akhirnya mengalah dan aku pergi ke ultah temanmu. Dan di sana aku diam, memojok sendiri di kursi kosong. Aku hanya memandangimu yang riang bersama teman-temanmu. Kau begitu gembira hingga aku yang telah kau bawa, kau lupakan. Maka alasanku begitu sangat kuat ketika aku menolak ketika kau ajak lagi. Tidakah kau mengerti? Kau memang tak pernah bisa mengerti. Kau egois! Aku juga ingat setelah kau kirim surat dua kata, kau selalu menjauh. Kadang kau membuang muka, berlari, bersembunyi, atau bergabung dengan teman gaulmu. Segala cara kau lakukan agar kau bisa menghindar dariku. Sungguh, seolah aku bagai anjing kurap di matamu. Sesungguhnya aku hanya mau bicara baik-baik denganmu. Aku hanya minta penjelasanmu kenapa kau pergi. Itu saja. Akhirnya kau buka mulut juga. Hanya karena kau tak ingin aku terus mengekormu dan tentunya mengganggumu. “Kita berbeda,” kalimat pembuka pertama saat kau mau bicara. Aku ingat sekali, karena aku sudah menduganya juga kau akan berkata begitu. Tapi aku tak ingin hanya menduga jika kebenarannya belum pasti. “Kita tak pernah bisa satu,” lanjutmu. “Mungkin kau benar perbedaan saling melengkapi. Tapi perbedaan itu bukan untuk disatukan, melainkan dipisah-pisahkan. Tahukah kau apa jadinya jika air dan api disatukan. Maka api akan padam jika air terlalu kuat, atau air yang menguap jika api yang kuat. Tergantung kekuatan mana yang lebih besar. Dan tahukah kau apa jadinya warna merah disatukan dengan putih, maka kedua warna akan membaur dan membentuk suatu warna baru. Kebetulan dua warna itu akan membentuk sebuah warna yang menarik. Tapi apa jadinya kalau coklat sama hitam? Tentunya makin memburuk. Kau mengerti? Perbedaan itu tidak disatukan, tetapi dipisah-pisahkah. Dikotak-kotakkan atau diberi sekat agar tidak merusak yang lainnya atau mengganggu yang lain. Tidakkau kau lihat pelangi. Warna itu sesungguhnya tidaklah bersatu tetapi terpisah dan alangkah indahnya warna yang terpisah itu. Bisakah kau bayangkan jika warna itu bersatu dan terpajang di langit biru. Akan menjadi layar buruk tentunya bukan? Maka aku pun pergi. Kita tak bisa bersatu….” “Ya, kita memang tak pernah bisa bersatu,” aku buru-buru memotong kalimatmu. “Kita tak pernah bersatu. Ada sekat di antara kita. Dan aku tidak pernah mencoba merusak sekat itu. Tapi kaulah yang merusak sekat itu. Kau yang mencoba memasuki jiwaku dengan jiwamu yang beda. Kaulah yang mencoba menyatukanku seperti dirimu. Padahal aku tidak pernah mencoba menyatukan jiwaku pada jiwamu.” “Sungguh aneh jalan pikiranmu,” katamu. “Aku kadang tidak bisa memahami dirimu. Kau bergulat sendiri dengan pemikiranmu dan menetapkan sendiri pula kebenarannya, tanpa menelusuri kembali kebenaran yang kau dapat. Kau terlalu yakin pada pemikiranmu yang belum tentu benar itu. Padahal kau pernah mengatakan, bahwa kesalahan tidak ‘kan ada jika tidak ada kebenaran. Apakah kau tidak sadar, bahwa kita sudah terikat dalam satu tali ikatan, bukankan itu sudah menyatu? Kita berada dalam satu rumah, bukankah itu sudah menyatu? Kita sudah berkali-kali bersetubuh bukankah itu berarti dua tubuh sudah menyatu.” “Tapi itu hanya dari luarnya saja, tidak di dalam ini, jiwa ini, dan itu tak pernah bisa bersatu. Memang Jiwamu, jiwaku, jiwa manusia sebenarnya adalah satu. Hanya karena berada dalam diri manusia yang berbeda, maka jiwa pun berbeda.” “Begitulah kau,” katamu kemudian. “Kau keras kepala. Kau terlalu yakin dengan perkataanmu sendiri dan tak mau mencoba mendengarkan kata orang lain. Padahal kita tak pernah bisa hidup sendirian….” “Makanya harus ada saling melengkapi,” kataku, tapi kau tak jua mengerti. “Sungguh, aku tak bisa dan tak akan pernah bisa mengerti dirimu. Aku pergi!” “Baik, aku mengalah jika itu sudah keputusanmu. Tapi tolong jelaskan padaku, kenapa kau hanya tulis dua kata pada secarik kertas kumal di kamarku?” “Aku juga mempertimbangkannya dengan teliti bagaimana aku harus mengatakan bahwa aku tak bisa hidup lagi denganmu. Jika kukatakan langsung, maka aku kalah dengan pemikiranmu yang membingungkan itu. Lalu kupikir menulis saja. Tapi ketika aku mulai menulis, aku berpikir tentang dirimu. Jika kutulis surat ini panjang lebar, maka kau tak bisa mempercayainya. Kau akan membacanya berulang-ulang untuk meyakinkan dirimu, dan kau akan menyimpannya menjadi kenang-kenanganmu. Lalu suatu masa akan kau baca lagi mengenang masa kita berdua. Aku tak ingin kau menjadi seperti itu. Oleh karena itu, aku pun menulis dua kata di secarik kertas kumal agar setelah kau membacanya kau bisa meremasnya dan membuangnya ke tong sampah dan kau pun tak perlu menyimpannya. Karena kertas kumal itu juga pertanda jiwamu yang sudah lusuh, perlu disetrika lagi atau jika tidak bisa maka dibuang. Tapi aku tak pernah mengira jadinya seperti ini. Kau mengincarku terus dan meminta penjelasanku. Sungguh aku tak pernah bisa mengerti dirimu. Bukankah kau begitu yakin apa yang kau pikirkan, sehingga tak perlu dipertanyakan lagi?” Kau memang pandai memainkan kata. Aku salut. Makanya aku suka padamu. Tetapi kalau sudah melebihi titik ekstrim, ternyata kau menjadi sangat tidak menyenangkan. Aku tahu kau sendiri kadang tak bisa memahami apa yang telah kau ucapkan bahkan kau lupa dengan kata-katamu sendiri. Ya, akhirnya kita benar-benar berpisah dan aku dengan setengah hati melepaskanmu. Kita tak bisa bersama lagi. Kubiarkan kau mencari pasangan lain yang sesuai hatimu, yang sama dengan watakmu, yang cocok denganmu. Seandainya takdir mempertemukan jodoh sesuai kriteriamu, maka sebelum terlambat kukatakan padamu bahwa kau akan melewati hari-harimu dengan kejemuan. Tidak ada sesuatu yang berbeda dari kalian untuk saling dilengkapi. Semuanya serba sama. Andai saja kau bisa mengerti, bahwa yang kita butuhkan, juga dunia ini bukanlah persamaan tetapi kebersamaan dan di dalam kebersamaan itu tentunya banyak perbedaan. Sekian, semoga kau bisa merenungi surat terakhirku ini. ***