Hampir seminggu yang lalu. Ketut mahendra, seorang kawan yang bekerja dipenerbitan buku memberiku dua buah buku biografi. Buku biografinya Freidrich Nietzche dan Sartre. Tidak gratis tentu, tapi pastilah ia tidak akan menerima bila kusodorkan sejumlah uang. Traktir makan biasanya. Namun kali ini dua buku. Bagus pula. Lalu aku bilang padanya ‘bagaimana bila aku temani engkau bila mau mendaki gunung’. “Wah menarik banget, bagaimana kalau keRinjani di Lombok dan aku ajak teman kerjaku katanya“. “Boleh bagaimana bila lepas aku ujian tengah semester dan kau bisa ambil cuti” kataku. Ah senang rasanya bila hobby yang selama ini aku lakukan bisa bermanfaat bagiku dan juga bagi sekelilingku. Jadi Guide amatiranlah. Tapi untuk kali ini tentu aku harus merogoh sendiri kocekku. Ya’ karena hanya menemani saja. Pun dua buku itu bila dinominalkan tentu akan besar juga. Tapi itulah ‘whats friend for’. Hi..hi… bahasa inggris, macamlah. Tapi, itulah gunanya teman. Empat hari, habis sudah dua buku itu aku baca. Sekarang. Tidak salah dipinjam sama wulan. Oh ya benar dipinjam sama wulan. Kemarinpun ia kirim sms. Kawan-kawan mau bakar jagung dirumahnya lusa nanti. Dan pastilah juga ada ngotot argumen segala. Argumen segala hal. Biasa mereka itu kan calon asissten calon PST (Pengamat Segala Tahu) anggota IbaLa (ikatan Banyak Lapis) indonesia. “Tentu ada alasan yang sangat penting bagi seorang Sartre menolak pemberian Nobel sastra ditahun 1964” kata arief. Kawan SMA dulu. Sartre itu hanya beruntung timpal iwan.”Beruntung karena ia berada pada satu kondisi dimana eksistensialisme membutuhkan seorang jurubicara untuk menggambarkan secara nyata bagaimana kondisi masyarakat eropa pasca perang Dunia kedua” tambahnya. Semangat sekali dia. Begitu juga dengan indra, aman, wulan, cahyo, ernida dan irta ketika kami mendiskusikan, eh bukan ketika kami sekedar untuk mengobrol tentang eksistensialis, feminis, juga strukturalis dan juga sosialis, mungkin. “lets Mot itu bukanlah sebuah karya yang berasal dari konsep pemikirannya sartre tentang eksisitensialisme, kataku. Lets mot itu adalah sebuah otobiografi. Sebuah kisah dimasa kecilnya. Dan… “Mungkin Sartre juga agak tidak begitu senang, bahwa ternyata kisah masa kecilnya lebih dihargai sebagai sebuah karya dibanding dengan hasil konsep pemikirannya yang lain" ujar irta menimpali. ‘Kamu tambah manis rta, ditambah dengan pancaran kepandaian kamu" kataku, tentu hanya dalam hati. Irta, irta apa perlu kusebutkan nama lengkapmu sekarang. ah… terlalu klise. “Tapi biar bagaimanapun eksistensialisme seolah menjadi sebuah atom yang besar, yang menggelegar di eRopa juga didunia salah satunya karena si ‘tidak sopan’ Sartre ini" tambahnya lagi. “itukan asumsi kita dan sejarah", kataku. "Dan akan begitu banyak asumsi, kita harus akui itu. memang benar lets Mot itu berkisah tentang masa kecilnya sartre dan sejarah yang bilang Lets Mot itu memperoleh nobel sastra” “Tapi ditolak…". Sela ernida. “Kita juga harus melihat polemik yang berkembang dimasanya. Satre dapat minum teh bersama Fidel Castro, berbincang bersama komandan pasukan cina di Semenanjung utara dan berdebat dengan presiden AS di ruang oval Gedung Putih adalah karena kapasitas dia sebagai seorang eksisitensialis. Sehingga apa, sehingga kita juga setidaknya mengakui bahwa selain kapasitas lainnya sartre juga adalah seorang yang ada di garis depan dengan baik. Seorang juru bicara eksistensialis kata iwan tadi”.. “lain dengan Nietche”, kata iwan. Semasa ia masih hidup saja filsafat Ubbermensch-nya saja sudah diajarkan di Universitas Basel. Itukan setidaknya ….. “Levi Strauss juga" sela wulan. Dengan strukturalisnya menjadi sebuah catatan dalam perkembangan ….. “yah kalau kita membandingkan satu dengan yang lain tentu ada point-point lainnya dan pointer itu tentu tidak akan sama satu dengan lainnya” “tapi, jelas ada intisari dari point-point yang kamu bilang itu", kata Arief. "Dan adalah pembelajaran kita untuk bagaimana menganalisa”. “Menganalisa..!?? kataku, tentu didalam hati lagi. Mereka tetap mendiskusikan, eh bukan sekedar untuk mempelajari. Suasana menjadi hangat, walaupun jagung bakarnya sudah habis. Ah’ dua buku dari ketut teryata mampu menjadi mata pancing yang terpendam. Dan kawan-kawanku ternyata lebih ‘hebat’ berbicara tentang semua itu. Mungkin dirumah mereka ada begitu banyak buku yang disembunyikan dari aku, agar jangan sampai aku pinjam mungkin. Terima kasih tut… Andai buku itu tidak pernah kamu kasih ke aku. Dan tentunya ada begitu banyak dan begitu panjang proses untuk bagaimana kita mempelajari, memahami, mengambil intisari dari semuanya. Menganalisa kata arief tadi. Eh.. sebentar. Menganalisa. Aku jadi ingat apa yang di katakan Syaikh Sayyid Qutb. Beliau pernah bilang “orang yang miskin itu tidak dapat memberikan sesuatu”. Miskin..?? tentunya disini miskin ilmu. Hmmm.. Menganalisa, orang miskin, ilmu, Belajar, kawan, buku, diskusi mungkin. Jelas ada proses dikesemuanya. Kompleks. Proses bagaimana semua itu membuat kita bukan makna orang miskin yang tidak dapat memberikan sesuatu tadi. Namun, proses memperoleh makna dari ilmu pengetahuan, makna orang kaya mungkin. Carilah ilmu dari tiang ayunan sampai liang lahat kata pepatah. Sehingga kita, eh aku dulu saja. Sehingga tidak harus menjadi kaya terlebih dahulu baru memberi. Memaknai kata-kata “Sampaikanlah olemu (dariku) walau satu ayat”. Proses. Proses mencari, memahami, proses menyampaikan. Hmmm….. .